About

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sunday, June 8, 2014

Oli Motor


SERVIS
SERVIS MOBIL
Informasi Tambahan : Oli Motor
Oli motor mana yang sesuai ? Itu dapat ditentukan melalui spesifikasi oli yang tercatat pada kalengnya !

Spesifikasi kekentalan ( viskositas )
Spesifikasi ini mengikuti standar + SAE

SAE 20 …….                         SAE 30 …….                                    SAE 50 …….


Encer …….                           Sedang …….                        Kental …….

Biasanya digunakan oli SAE 40


Oli “ multigrade “
Oli biasanya menjadi cepat encer bila suhunya naik. Pada oli “ multigrade “ ada penambahan khusus yang menahan efek tersebut

Contoh : Mesran super SAE 20W - 50

                                      20W                                                  50

Pada temperatur                       Pada temperatur tinggi,
dingin, kekentalan                    kekentalan sama seperti
seperti oli biasa                         oli biasa SAE 50
SAE 20


Pada prektek, penggunaan oli  “ multigrade “  tidak begitu bermanfaat pada suhu udara yang merata seperti di Indonesia, “W” pada oli multigrade bermakna Winter

Spesifikasi kualitas
Spesifikasi ini mengikuti standart API.

Motor bensin :         SA, SB ……..….SF…………..SH



tugas ringan
tugas sedang
tugas berat

Motor Diesel :          CA, CB ……….CE



                        tugas ringan                  tugas berat


Biasanya digunakan :
Motor bensin : SD, SE, SF
Motor Diesel : CC, CD

Contoh oli yang dapat memenuhi semua kebutuhan normal :  Mesran B40 ( SAE 40, API SE/CC )






Interval ganti oli motor ( tergantung kualitas olinya )
Contoh :
Motor bensin : setiap 5.000 – 6.000 km
Motor Diesel  : setiap 3.500 – 4.000 km ( lebih cepat kotor )







Saturday, April 26, 2014

Penguat tenaga rem (Boster)



CASIS
REM MOBIL
Penguat tenaga rem  (Boster)
Boster adalah perlengkapan tambahan pada sistem rem yang berfungsi untuk memperbesar gaya pengereman
Komponen-komponen boster

1.      Karet diafragma
2.      Katup udara
3.      Katup vakum
4.      Tuas pendorong
5.      Katup pengontrol vakum
6.      Tuas rekasi
7.      Torak boster
8.      Tuas pendorong
Alran gaya tekan pedal rem

A = saat pedal rem dfiinjak menghubungkan saluran 1        2 ada rekasi gaya dorong torak boster
B = saat pedal rem dilepas saluran 1       3      tidak ada

Prinsip kerja penguat tenagan (BOSTER)
Saat bebas

Tidak ada gaya tekan pedal    pegas rekasi mendorong katup pengendali ke arah katup udara menutup dan katup vakum membuka
Saluran vakum terbuka           ruang A berhubungan dengan ruang B
Tekanan diruang A         ruang B, tekanan seimbang            tidak ada rekasi gaya dorong torak
Pegas pengembali mampu menekan torak pada posisi belum bekerja

Saat direm

Gaya pedal rem    pegas reaksi      katup vakum menutuk saluran vakum     torak boster     batang dorong dan torak silinder master
Saat katup vakum menutupsaluran vakum     katup udra membuka saluran udara akibatnya ruang A tidak ada hubungan dengan ruang A
Ruang A berhubungan dengan tekanan vakum dan ruang B berhubungan dengan tekanan atmosfir (udara)         PB>PA         ada rekasi gaya dorong kearah torak silinder master (boster bekerja)

Gara Pengereman = Gaya dorong pedal  +  Torak Boster

Saat pedal rem lepas injakan

Tidak ada gaya dorong pedal   pegas katup pengendali mendorong katup pengendali kearah katup udara menutup udara     saluran vakum saluran
Ruang A berhubungan dengan ruang A kembali          ke ruang B = ruang A = tekanan vakum     rekasi gaya dorong torak hilang karena tekanan di depan dan dibelakang torak seimbang
Pegas pengembali torak boster terus mendorong pada posisi tidak direm
Jika melepas injakannya sedikit     saat pedal rem ditekan     gerakan kembali katup pengendali terhenti      torak terus bergerak hingga saluran vakum tertutup lagi    ruang B kembali berhubungan dengan tekanan atmostfir       tekanan ke torak silinder master dipertahankan sesuai kehendak sopir

Katup Pengendali Boster dengan tuas Reaksi

Cara kerja :
Saat bebas (tidak bekerja)
Pegas torak boster menekan torak pada posisi tidak direm dan tuas rekasi tegak karena titik tumpu “D” diam pada tumpu “C” di tekan ke kanan
Batang dorong pedal tertarik kekanan    dengan hubungan bola katup udara tertarik kekanan hingga menekan katup kontrol dan pegasnya pada posisi membuka katup vakum
Katup vakum terbuka, kevakuman diruang A berhubungan dengan ruangB dan katup udara menutup saluran udara kntrol      ruang B tidak berhubungan denganm udara luar

Tidak ada perbedaan tekanan antara dengan torak boster dian     torak boster tidak memberi gayakan gaya dorong

Saat pengereman

Pedal rem didinjak
Batang dorong pedal bergerak kekiri melawan pegas katup udara dan mendorong katup udara bergerak kekiri
Gaya pegas katup kontrol mendorong katup kontrol bergerak keiri mengikuti gerakan katup udara
 Gerakan katup kontrol tertahan dan menutup katup vakum
Katuip udara terus bergerak kekiri akibatnya saluran udra katup kontrol terbuka menghubungkan ruang variabel dengan udara luar
Tiorak bergerak kekiri akibat dari perbedaan tekanan dimana di depan torak (ruang A) adalah tekanan vakum dan dibelakang torak (ruang B) tekanan atmosfir (udra luar)
Tekanan ruangA      < tekanan ruang B
Torak bergerak kekiri
Pr A < Pr B
Tenagan dorong torak diteruskan kebatang dorong master melalui tumpuan”C” (torak dengan tuas rekasi), tumpuan G (tuas rekasi dengan piringan reaksi) piringan reaksi menekan batang dorong master silinder
Karena rekasi tumpuan G berlawanan arah dengan arah gaya ditumpuan C maka tuas rekasi terungkit pada bagian tepi dalam (tumpuan E)
Ditumpuan E didorong oleh torak katup udara karena tekanan batang dorong pedal, sehingga piringan reaksi menekan batang dorong  master dari timpuan G
Tumpuan G mendapat gaya dari tumpuan E dan tumpuan C Bila tenaga pedal rem sebesar

Tenaga Piston = b/a. F
F
Out put boster = F + (b/a).F


Saat tetap ditekan
Pedal trem ditekan tetap
Gaya dorong torak pada tumpuan C akibat perbedaab tekanan diruang A dan B menyebabkan torsk bergerak kekiri bersama katup kontrol
Jika gaya yang bekerja pada tumpuan C sam,pa seimbang dan katupkontrol bergerak kekiri menyentuk katup udara dan katup vakum
Karena tekan pedal tetap maka kan menimbulkan 6tekanan yang sesuai dengan penekanan pedal rem

Saat kerja maksimum
Tekanan pedal bertambah besar
Gaya pada tumpuan E besar
Tidak terdapat keseimbangan pada tuas reaksi, hingga tumpuan E menempel pada piringan reaksi mendorong batang dorong master
Katup udra semakin jauh membuka dan saluran udara semakin terbuka lebar Tekanan udra di runag B (ruang variabel) sama dengan udra luar
Perbedaan tekanan besar gaya dorong torak dan penambhan tekanan pedal rem akan menambah besarnya gaya yang bekerja pada batang pendorong master silinder


Saat pedal bebas/dilepas injakan
Keseimbangan pada truas reaksi hilang
Gaya dorong torak katup udra ke tumpuan E hilang
Torak udra didorong kekanan oleh rekasi gaya pada tumpuan G dan pegas katup udara
Katup udra bersentuhan dengan katup kontrol menutup saluran udara dan membuka katup vacum

Terjadi hubungan anatara ruang A dan ruang variabel B tidak ada perbedaan tekanan gaya dorong torak boster hilang dan torak boster didorong pegas pada posisi tidak bekerja

Saat pengereman tanpa vakum
Batang dorong pedal menekan katup udara membuka saluran udara ruang variabel “B” berhubungan dengan udara luar
Torak katup udara mendorong tuas reaksi pada tumpuan E dan menekan piringan reaksi selanjutnya menekan batang dorong master silinder
Tuas rekasi menekan pada tumpuan “D” dan selanjutnya mendorong pegas dan torak boster
Ruang variabel bertambah besar dan berhubungan dengan udara luar
Fungsi rem hidraulik tetap bekerja walau tekanan vakum di ruang A tidak ada/tidak bekerja karena kerusakan

Katup pengendali dengan Piring karet reaksi

1.      Diafragma
2.      Torak boster
3.      Piring karet reaksi
4.      Katup kontrol
5.      Katup udara
6.      Torak batang dorong masterrem
7.      Pegas torak boster
8.      Batang dorong master


Prinsip kerja :
Ruang A berisi cairan A yang tidak dapat dikompresikan
Bila torak D menekan cairan “A” maka tekanan cairan akan menekan permukaan c dan B
Gaya pada C dan B akan berbanding lurus :

FC = PA . AC  dan  FB = PA . AB
Semakin besar penampang A atau B semakin besar pula gaya bekerja pada permukaanya
Contoh : Fr   = 10 Kg            , AC = 6 cm2                             dan AB = 4 cm2
 PA = 10 Kg   =  1 kg/cm2                                                     FC = PA AC = 1.6 = 6 kg
                                                                                                FB = PA .AB = 1.4 = 4 kg

Perbandingan gaya dengan banyaknua fluida ini digunakan pada prinsip bekerja reaksi katup udara dan pada prakteknya biasanyan fumngsi rekasi ini dilaksanakan oleh piring karet reaksi

Silinder roda



CASIS
REM MOBIL
Silinder roda
Nama bagian-bagian dan cara kerja silinder roda :

Langkah tekan
Tekanan cairan rem yang di bangkitkan silinder master menekan sil karet silinder roda
Langkah lepas
Tekanan cairan rem tidak ada tegangan pegas pengembali sepatu rem tromol menekan sil karet silinder roda, cairan rem mengalir kembali ke silinder master

Macam-macam silinder roda
Silinder roda dapat dibedakan menjadi tiga macam :
Silinder roda satu torak
Silinder roda dua torak satu silinder
Silinder dua roda dua  torak dengan silinder bertingkat

Silinder roda sato torak

Keterangan :
Digunakan pada :
Sistem dupleks
Sistem servo

Silinder roda dua torak satu silinder
Keterangan :
Digunakan pada : Sistem duo dupleks
Sistem duo servo
F1 = F2
Silinder roda dua torak silinder bertingkat
Keterangan ;
F1>F2
Dinakan pada :
Sistem duo servo
Sistem dumpleks